Blogger Widgets Cyber Media: feature https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoLw36fAfZDnO_haRMGJdZdNzOoWbCtS5GdygcjT07wcio2ByY7CF5jSiD46SRBBOHJbPa5bUiWW3iFIb3TU1blhrGai6Uhal313-i5oQPZSOcuIrXIrZTBN6rtIIGR_8kMX-X-SPR9KY/s128-no/Loading4.GIF Blogger Widgets

Rabu, 22 Oktober 2014

feature

Menghadapi Persaingan di antara industri media


Hal yang paling menarik dari cerita Paul Darminto tentang kiprahnya di industri media adalah bagaimana menyiasati persaingan antarmedia.  Dia katakan, “Mengelola media itu gampang-gampang susah di zaman sekarang. Jika berminat, prosesnya mudah, dan anda pun bisa memulainya sekarang. Tetapi yang sulit adalah bagaimana menjawab tuntutan pasar dan mengahadapi persaingan antarmedia.”

Sebagai sebuah penerbit yang baru dan kecil, PT International Licensing Media menghadapi tantangan persaingan ketat di antara industri media. Paul mengakui bahwa beberapa industri media di Indonesia, seperti Kompas Gramedia dan Media Indonesia, terbilang raksasa. Perusahan-perusahan media itu memiliki sumber daya yang kuat. Mereka juga telah menguasai sebagian besar konsumen media.

Sementara itu, pada era reformasi, sejak kejatuhan Soeharto, perusahan-perusahan media baru terus bermunculan. Hal ini terjadi karena proses pendirian sebuah penerbit tidak lagi serumit pada era Soeharto. Demikian pula pengawasan terhadap kontent, para awak media mengalami kebebasan untuk berkarya tanpa harus takut dibredel karena dianggap mengkritik pemerintah.

Persaingan menjadi semakin ketat ketika sejumlah media menawarkan tema yang sama. Bayangkan saja kalau seseorang berdagang di pasar, menjual produk-produk yang sama dengan pedagang-pedangan di sebelah kiri dan kanannya. Seperti tulah yang terjadi saat majalah-majalah terbitan ILM ada di antara majalah-majalah lain yang berisikan tema yang sama. Majalah AIRLINER World Indonesia, contohnya, bukanlah satu-satunya majalah tentang penerbangan. Majalah Angkasa dari penerbit lain juga membahas hal yang sama. Demikian pula SUPERKIDS. Majalah anak-anak ini berada di antara majalah Bobo yang usianya jauh lebih tua.

Menghadapi persaingan antarmedia, Paul menceritakan beberapa strateginya. “Kalau pun tema sama, kita harus tetap tampil beda,” katanya. Bagi Paul, kreativitas sangat penting baik dalam pengolahan kontent maupun strategi pemasaran.

Kreativitas dalam pengolahan kontent terlihat jelas dalam fokus yang khas pada majalah-majalah ILM. AIRLINER World Indonesia mengupas topik-topik seputar perkembangan terbaru dan gaya hidup dalam dunia penerbangan sipil. Dengan itu ia tampil beda dengan majalah lain yang lebih menyoroti penerbangan militer.

Untuk menjangkau para pembaca, ILM menerapkan berbagai strategi penjualan. Sebagian produk mereka dititipkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, dan lapak-lapak penjualan koran dan majalah. Bagian pemasaran ILM juga melayani pengiriman langsung bagi mereka yang berlangganan. Belakangan, ILM bekerja sama dengan Indomaret untuk distribusi dan penjualan majalah, sebuah langkah baru yang belum banyak dilakukan perusahaan media lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar